Tekan ESC untuk menutup

Bagaimana Menerapkan Konsep Framework ke dalam Strategi Trading Anda untuk Analisis yang Lebih Baik

  • Apr 03, 2025
  • 4 minutes read

📌 Pendahuluan: Mengapa Framework Adalah Level Berikutnya bagi Trader? Trader pemula sering kali menghadapi kekacauan di grafik. Candlestick bergerak liar, indikator memberikan sinyal yang bertentangan, dan berita pasar menimbulkan ketakutan. Banyak yang berdagang secara acak, mengandalkan intuisi atau sinyal individu dari indikator, yang akhirnya mengarah pada kerugian besar.

Solusinya? Framework. Ini bukan sekadar kumpulan alat, tetapi model analisis yang terstruktur untuk membantu mengambil keputusan yang lebih rasional dan menyusun proses trading dengan lebih sistematis.

Manfaat framework dalam trading: 
✅ Menghilangkan keputusan emosional
✅ Menyaring sinyal palsu dengan cepat
✅ Meningkatkan akurasi prediksi
✅ Mengoptimalkan manajemen risiko

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari metode konkret dalam membangun framework trading dan contoh praktis penerapannya.

 

1️⃣ Apa Itu Framework dalam Trading?

Framework adalah algoritma analisis pasar yang terstruktur. Tidak seperti penggunaan indikator secara acak, framework menetapkan urutan tindakan yang jelas.

Contoh sederhana framework:

  1. Menentukan tren global (misalnya dengan EMA 200)
  2. Menganalisis struktur pasar (support/resistance, likuiditas)
  3. Mencari sinyal entry (pola harga, indikator)
  4. Konfirmasi entry (volume, analisis candlestick)
  5. Menentukan stop-loss dan take-profit
  6. Manajemen risiko (ukuran posisi, risiko per trade)

Keuntungannya: 👉 Menghilangkan subjektivitas dalam analisis 👉 Memungkinkan pengulangan trade yang sukses 👉 Memberikan sistem yang dapat diuji dan disempurnakan

 

2️⃣ Jenis-Jenis Framework yang Populer

Berikut beberapa framework yang sering digunakan dalam berbagai strategi trading.

🔹 Framework "Three Screens Elder" (Klasik)Layar pertama: Menentukan tren pada timeframe besar ✔ Layar kedua: Mencari pullback pada timeframe menengah ✔ Layar ketiga: Entry pada timeframe kecil

Contoh: 📈 D1 menunjukkan tren naik (harga di atas EMA 200) 📊 H4 mengalami koreksi ke EMA 50 ⏳ M30 membentuk pola reversal (double bottom, engulfing) → Entry long

Framework ini menyaring entry yang buruk dan membantu memilih momen entry yang optimal.

🔹 Framework "Konteks dan Trigger" (Teknik Profesional) Framework ini sering digunakan oleh trader profesional di pasar saham dan kripto.

Konteks: Menentukan arah pasar secara global ✔ Trigger: Sinyal spesifik untuk entry

Penerapan:

  • Konteks: Menentukan tren, likuiditas, dan level kunci (misalnya: BTC/USD menguji $60.000 setelah fase akumulasi).
  • Trigger: Menunggu konfirmasi seperti volume besar, reaksi harga di level kunci, atau pola candlestick tertentu.
  • Entry: Hanya setelah sinyal terkonfirmasi.

Contoh: 🔥 Harga mendekati level kunci dengan volume besar → Konteks dikonfirmasi ⚡ Muncul pin bar dengan false breakout → Trigger entry 🎯 Entry dengan stop-loss pendek dan target rasio risiko 3:1

Framework ini mengurangi noise pasar dan meningkatkan peluang sukses dalam trading.

 

3️⃣ Cara Membuat Framework Trading Sendiri

Jika ingin trading dengan sistematis, Anda perlu membangun framework pribadi. Berikut langkah-langkahnya:

Langkah 1: Tentukan Faktor Utama Pilih faktor dasar strategi Anda, misalnya:

  • Tren (trend-following)
  • Likuiditas (analisis volume)
  • Level kunci (support/resistance)
  • Volatilitas (entry saat momentum kuat)

Contoh: Jika Anda trading BTC/USDT, faktor utama bisa berupa level support/resistance dan volume.

Langkah 2: Tetapkan Syarat Entry Buat aturan ketat untuk entry trade, misalnya:

💡 Entry Long: ✔ Harga di atas EMA 200 pada H1 ✔ Ada zona likuiditas kuat ✔ Volume mengonfirmasi level ✔ M5 membentuk pola false breakout

💡 Entry Short: ✔ Harga di bawah EMA 200 ✔ Ada penjual besar di level resistance ✔ Breakout bearish yang kuat

Entry hanya jika semua kondisi terpenuhi!

Langkah 3: Uji dan Optimalkan 🚀 Uji framework dengan backtest (minimal 100 trade) 📊 Catat hasilnya (winrate, rata-rata loss, rata-rata profit) 🔧 Optimalkan (jika winrate <50%, perbaiki faktor lemah)

Contoh nyata: Seorang trader menguji strategi breakout dengan false breakout. Awalnya winrate hanya 40%, tetapi setelah menambahkan filter volume, winrate meningkat menjadi 68%.

 

4️⃣ Kesalahan dalam Penerapan Framework

Terlalu kompleks – Jika framework terlalu rumit, sulit untuk diikuti. ❌ Tidak diuji – Tanpa data historis, Anda tidak tahu apakah strategi benar-benar berfungsi. ❌ Tidak fleksibel – Pasar selalu berubah, jadi framework harus diperbarui secara berkala.

🔹 Aturan emas: Framework harus jelas, sederhana, dan sudah diuji di histori pasar.

 

🚀 Kesimpulan: Mengapa Framework Adalah Kunci Keberhasilan dalam Trading 🔹 Membantu menyusun strategi trading secara sistematis 🔹 Menghilangkan emosi dan kebingungan dalam mengambil keputusan 🔹 Meningkatkan akurasi trade dan mengurangi risiko

Jika Anda mulai menggunakan framework yang terstruktur, kurva profit Anda akan lebih stabil, dan risiko trading dapat dikendalikan dengan lebih baik.

Sekarang saatnya untuk bertindak—bangun framework trading Anda, uji, dan mulai terapkan dalam strategi trading harian Anda! 🚀🔥

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *